Senin, 11 Maret 2013

PEMIMPIN MASA DEPAN ALFEUS SEGAPULDES


Jumat, 08 Februari 2013

Wakil Bupati Paolus Hadi, S.Ip, M.Si



Wakil Bupati Sanggau Paolus Hadi, S.Ip, M.Si
Paolus Hadi, S.Ip, M.Si dilahirkan di Sanggau 07 Desember 1969, Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri No. 16 Sanggau. Kemudian pendidikan tingkat lanjut ditempuh di SMP Sugiopranoto Sanggau. Pendidikan tingkat menengah ditempuhnya di SPP Daerah Singkawang. Lalu dilanjutkan S1 menempuh program Sarjana Ilmu Pemerintahan (S.Ip) di Universitas Terbuka dan S2 Menempuh Program Master Ilmun Sains (M.Si) di Universitas Tanjungpura Pontianak. Menikah dengan Arita Apolina, S.Pd, M.Si dengan dikaruniai empat orang anak.
Pengalaman berorganisasi :
1.      Pemuda Katolik Kab. Sanggau  Tahun
2.      KNPI Kab. Sanggau
3.      Sekjen Dewan Adat Dayak Kab. Sanggau
4.      Dewan Pertimbangan Dewan Adat Dayak Kab. Sanggau
5.      Ketua Dewan Pengurus Credit Union (CU) Kusapa Sanggau
6.      Ketua Dewan Pengurus Credit Union (CU) Kusapa Sanggau
7.      Ketua DPD PNBK Propinsi Kalbar
8.      Ketua Ormas Nasional Demokrat Kabupaten Sanggau
9.      Ketua Pemuda Pancasila Kab. Sanggau
10.  Dewan Penasehat Pemuda Dayak Kab. Sanggau
Th. 1999 s/d Th. 2002
Th. 2004 s/d Th. 2007
Th. 2005 s/d Th. 2009
Th. 2009 s/d Th. 2014

Th. 2002 s/d Th. 2007

Th. 2007 s/d Th. 20012

Th. 2007 s/d Th. 20012
Th. 2011 s/d Th. ..........
Th. 2011 s/d Th. 20015
Th. 2011 s/d Th. ..........
Pengalaman Pekerjaan :
1.      Mandor PT. MPE
2.      Staf Lapangan s/d Asisten Pada Proyek Kerjasama Indonesia – Jerman Bidang Perhutanan Sosial Proyek SFDP ( Dephut – GTZ )
3.      Eksper pada Proyek Proyek Kerjasama Indonesia – Jerman Bidang Perhutanan Sosial Proyek SFDP ( Dephut – GTZ )
4.      Ketua Yayasan Perhutanan  Sosial Bumi Khatulistiwa (YPSBK) Kab. Sanggau
5.      Anggota DPRD Kab. Sanggau
6.      Wakil Bupati Kab. Sanggau
Th. 1989 s/d Th. 1990

Th. 1991 s/d Th. 2000

Th. 2000 s/d Th. 2002


Th. 2002 s/d Th. 2004

Th. 2004 s/d Th. 2009
Th. 2009 s/d Th. 20014


Rabu, 10 Oktober 2012

Dayak Jangkang







Dayak Jangkang adalah salah satu subsuku Dayak di Kabupaten Sanggau. Wilayah penyebaran dan penduduknya cukup banyak, hampir sebanding dengan Dayak Mualang dan Dayak Ribun.
Subsuku ini umumnya bermukim di bagian utara Kabupaten Sanggau. Tepatnya di antara dua sungai besar, yaitu Sungai Sekayam dan Mengkiang juga beberapa sungai kecil, termasuk Sungai Jangkang. Sungai Jangkang itu lebarnya hanya ± 1,5 meter. Namun demikian, sungai ini tidak pernah kering.Sumber mata airnya di Gunung Bengkawan.
Tidak diceritakan secara rinci apa yang terjadi di balik cerita tentang sungai tersebut sehingga dijadikan dasar penamaan suku tersebut. Keberadaan Dayak Jangkang atau acapkali juga dikenal obi’ Jongkakng, di Kalimantan Barat ini bukanlah suku yang asing didengar.
Pada zaman perang antarsuku, Dayak Jangkang sangat ditakuti oleh suku lain di Kabupaten Sanggau. Mereka juga dikenal sebagai pengayau yang ulung. Mereka mengayau bahkan hingga ke wilayah Sosok, Batang Tarang, bahkan ke wilayah Kabupaten Landak.
Pada zaman raja-raja berkuasa di Kabupaten Sanggau (waktu itu Negara Indonesia belum ada) salah satu tokoh Dayak Jangkang yang terkenal sakti bernama Macan Luar atau dikenal juga dengan nama Macan Ke’ Gila. Pada masa tuanya ia bertingkah seperti orang gila dan menakuti anak-anak. Ia pernah memimpin pasukannya menaklukkan Kerajaan Tayan dan Sekadau.
Oleh kehebatan Macan Luar inilah, panembahan Tayan memberi gelar kepada Macan Luar sebagai Macam Muara Tayan Sengkuang Tajur. Dayak Jangkang ikut mengukir sejarah Dayak terutama dalam peristiwa Pertemuan Perdamaian Perang antarsuku yang dilaksanakan di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah pada tahun 1894.
Pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 600-an orang Dayak ini menjadi penting bukan karena kehadiran jumlah pesertanya yang begitu banyak, namun karena dalam pertemuan ini suku Dayak seluruh Kalimantan berhasil menyepakati untuk menghentikan peperangan antarsuku Dayak yang disebut mengayau.
Orang Dayak Jangkang menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh sukunya pada saat itu tidak baik untuk diwariskan. Kesadaran inilah yang menguatkan suku ini ikut ambil bagian dalam pertemuan Tumbang Anoi tersebut.
Kelompok suku ini mengutus lima orang pemimpinnya yang semuanya bergelar macan. Para pemimpin tersebut adalah Macan Natos (Ke’ Engkudu’) dari Empiang, Macan Luar (Ke’ Gila) dari Kobang, Macan Talot dari Sekantot, Macan Mure dari Tebuas/Ketori, dan Macan Gaing dari Terati. Kelima tokoh Dayak Jangkang ini sangat penting dalam sejarah Dayak Jangkang. Sepulang dari pertemuan ini, kelimanya membuat semacam kesepakatan dengan seluruh anggota masyarakatnya untuk menghentikan praktik penganyauan.
Dayak Jangkang pada zaman dulu seolah-olah memiliki pemerintahan sendiri atau kedaulatan wilayah adat yang cukup permanen. Kelompok suku Dayak Jangkang yang tersebar dari Sungai Kapuas bagian kiri mudik terbagi dalam tujuh wilayah ketemenggungan, satu wilayah pateh, dan satu wilayah mangku. Tujuh wilayah ketemenggungan ini ialah sebagai berikut.
  1. Jangkang Kopa (Henua Kopa) yang meliputi sebelas kampung yang berpusat di Empiang.
  2. Jangkang Nsanong yang meliputi tujuh kampung yang berpusat di Terati
  3. Jangkang Engkarong yang meliputi sebelas kampung yang berpusat di Sekantot.
  4. Jangkang Ngkatat yang meliputi tujuh kampung yang berpusat di Ndoya
  5. Jangkang Junggur Tanjung yang meliputi enam kampung yang berpusat di Mpurang.
  6. Jangkang Seguna/Muko’ yang meliputi lima kampung yang berpusat di Seguna.
  7. Jangkang Kanan yang meliputi tujuh kampung yang berpusat di Tumbuk.
Wilayah pateh berpusat di Semirau. Wilayah kepemimpinan seorang pateh di bawah temenggung. Pateh yang pertama adalah Pateh Logau yang waktu itu memiliki wilayah yang meliputi sembilan kampung, yaitu Kampung Semirau, Ensibau, Sekampet, Jambu, Semukau, Sentowa, Ketori, Tebuas, dan Sabang. Wilayah mangku berpusat di Kobang. Wilayahnya meliputi enam kampung, yaitu Kampung Kobang, Jangkang Benua, Penyu/Landau, Parus, Sebao, Tanggung, dan Engkolai. 

Selasa, 14 Agustus 2012

gawai dayak sanggau 2012




Kalangan  masyarakat Dayak sebagai bagian komponen bangsa dan salah satu suku yang hidup dan berkembang di  Kalimantan Barat yang  memiliki Kekayaan Budaya yang dimiliki masyarakat Dayak telah memberikan identitas tersendiri dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Dayak dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungan yang diimplementasikan dalam kehidupan selalu menjaga keharmonisan antara manusia , alam dan lingkungan.
Beberapa nilai-nilai budaya yang dianut dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti semangat gotong royong, cara bercocok tanam, cara berburu, upacara adat perkawinan serta seni tari yang memiliki makna filosofi yang sangat tinggi dan penuh dengan kearifan lokal, mengatur jalinan interaksi antara manusia, alam dan lingkungan serta Sang Pencipta ( AKEK PONOMPA).
Digelarnya perayaan Gawai Dayak ini harus dapat mengambil makna yang terkandung didalamnya, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara
Jadikan Momentum Gawai Dayak ini untuk kita bersyukur sebagai manusia yang memiliki kewajiban baik terhadap alam, lingkungan serta kepada Yang Maha Kuasa ( AKEK PONOMPA).